Paradigma seorang internal auditor telah berubah dari yang semula perannya hanya sebagai pemeriksa, sekarang, selain sebagai pemeriksa dia juga harus berperan sebagai internal consultant.
Untuk kedua peran ini, mutlak dibutuhkan kemampuan berkomunikasi bagi auditor. Kemampuan komunikasi ini akan membantu auditor dalam memperoleh informasi yang berguna, selain mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh auditee, mengetahui penyebab terjadinya permasalahan, tetapi juga akan memudahkan dalam mendapatkan solusi pemecahan/rekomendasi perbaikan agar permasalahan yang sama tidak terjadi di kemudian hari atau berulang terjadi.
Komunikasi tidak akan berjalan dengan maksimal apabila kita tidak memposisikan sebagai seorang teman dari auditee. Komunikasi akan sulit jika kita tetap menggunakan baju sebagai seorang auditor. Sebaliknya, komunikasi akan berjalan lancar apabila masing-masing memposisikan pada tingkatan yang sejajar, tidak selalu dalam posisi auditor-auditee, tetapi posisikan sebagai sesama karyawan. Memang tidak mudah, tapi kita harus berusaha ke arah itu. Jadi, buatlah fleksibel posisi kita sebagai auditor-teman-konsultan sesuaikan dengan kondisi saat berkomunikasi.
Kesan yang selama ini melekat pada diri auditor: pendiam, asyik mengutak-atik angka, sering membuat kejutan dengan temuan-temuan, angker (galak), merasa lebih tinggi posisinya dari auditee. Ubahlah kesan itu dengan menjadikan kita sebagai auditor yang “bergaul”, yang menjalin komunikasi dengan karyawan lain tidak hanya saat pemeriksaan. Kita harus menyadari bahwa auditor hanya ahli dalam bidang auditing bukan ahli dalam segala hal, karenanya siapkan ruang di hati, telinga, dan otak kita untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain. Dengan begitu, orang lain akan membukakan pintu untuk menjadi teman kita.
Saya mempunyai seorang teman, sama-sama karyawan tetapi dari unit kerja yang berbeda. Teman ini sekarang menjadi „informan“ kami yang informasi selalu akurat terkait dengan kasus-kasus pelanggaran oleh karyawan di perusahaan.
Teman saya ini bekerja di salah satu kantor cabang, sedangkan saya berada di kantor pusat. Pertemuan kami yang pertama dalam posisi auditor dan auditee, dia adalah salah satu penanggungjawab bagian keuangan di kantor cabang. Dalam masa pemeriksaan saya berusaha memposisikan sebagai partner (internal consultant) baginya, saya dengarkan cerita-ceritanya, keluh kesahnya terhadap kondisi perusahaan, termasuk mendengarkan ide-idenya (dengan sepenuh hati, bukan berpura-pura untuk menyenangkannya).
Dari cerita-cerita yang disampaikannya, ada informasi yang sangat penting bagi kami, yaitu, banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh karyawan cabang namun tidak ada tindakan dari kepala kantornya, bahkan saat ia melaporkan pelanggaran-pelanggaran kepada kepala kantornya, ancaman-intimidasi datang dari karyawan lain. Dan, lagi-lagi tindak ada tindakan dari kepala kantornya.
Dia merasa gerah dengan praktek penyelewengan di kantornya, namun tidak punya daya untuk melawannya. Maka, dia butuh teman. Teman yang minimal mau mendengarkan ceritanya, syukur-syukur mau membantunya melawan praktek penyelewengan.
Saat pemeriksaan, kami benar-benar menindaklanjuti „cerita“nya dan memang terbukti terjadi banyak penyelewengan di kantor cabang tersebut.
Dari kejadian tersebut timbul rasa kepercayaan dari kedua pihak, saya percaya bahwa cerita-ceritanya memang benar dan bernilai, dia juga percaya bahwa kami bisa membantu menindaklanjuti informasi yang dia sampaikan.
Sampai saat ini dia selalu memberikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pemeriksaan. Jujur saya katakan bahwa banyak audit investigasi kami sangat dibantu oleh informasinya. Bahkan seringkali teman tersebut sudah melakukan audit pendahuluan lengkap dengan temuan dan bukti-buktinya, luar biasa.
Dan, sekarang karyawan lain yang mau menjadi „informan“ menjadi semakin banyak, salah satunya karena cerita teman saya tadi tentang keberadaan kami.
Yang unik dari pertemanan kami, agar karyawan lain tidak mengetahui bahwa dia adalah informan kami, saat berpapasan di depan karyawan lain kami seolah-olah tidak mempunyai “hubungan” khusus, berlaku sewajarnya seperti dengan karyawan lain.
Jadi dengan banyak berteman, banyak bergaul dengan siapa saja - apapun jabatannya - akan membantu kita dalam memperoleh informasi yang berguna dalam pemeriksaan. Dengan keterbatan jumlah tenaga auditor, maka bantuan dari karyawan lain sangatlah berharga bagi kelancaran tugas-tugas auditor.
Jakarta, 19 September 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar