Seringkali dalam melaksanakan pemeriksaan kita menghadapi tentangan, ancaman, gertakan dari auditee. Hal itu muncul karena berbagai alasan yang melatarbelakangi sikap mereka, namun, dari pengalaman saya selama menjadi auditor, ancaman dan gertakan muncul karena mereka sendiri (auditee) merasa takut apabila auditor menemukan kesalahan mereka dan melaporkannya kepada manajemen. Ancaman dan gertakan dimaksudkan agar auditor mundur dari pemeriksaan atau merasa takut sehingga hasil pemeriksaan tidak akan menyentuh kesalahan mereka.
Tentangan yang saya maksud adalah keengganan auditee untuk diperiksa, mencoba memundurkan waktu pemeriksaan, tidak memberikan data sesuai permintaan auditor.
Gertakan dan ancaman lebih bersifat fisik, disampaikan secara verbal ataupun tulisan (sms, misalnya).
Suatu saat beberapa teman saya berangkat ke salah satu kantor cabang yang dikenal sebagai kantor cabang „bermasalah“. Disebut bermasalah karena sudah sering kami menemukan pelanggaran prosedur yang masuk dalam kategori „fraud“ yang dilakukan oleh karyawan cabang tersebut. Kami sudah mempunyai file khusus yang menyimpan laporan-laporan investigasi dan profil karyawan yang terlibat dari kantor cabang tersebut.
Penugasan kali ini menindaklanjuti informasi dari salah satu karyawan perusahaan yang menyatakan adanya praktek penyalahgunaan wewenang oleh salah seorang karyawan cabang yang merugikan konsumen. Dan maksud kedatangan kami ke kantor cabang adalah untuk meminta bantuan salah satu karyawan untuk mengantar kami menunjukkan alamat rumah konsumen. Untuk maksud tersebut, kami menemui kepala cabangnya.
Sangat tidak diduga, cara penerimaan karyawan cabang sangat tidak bersahabat, mata semua tertuju kepada kedatangan tim kami. Dan mulailah gertakan, ancaman dilontarkan mereka kepada kami secara masal, “Ini kedatangan terakhir auditor di kantor kami!”, singkat tapi maknanya jelas bahwa kami tidak boleh lagi menginjakkan kaki di kantor cabang tersebut. Hebat kan , seolah-olah mereka adalah pemilik perusahaan. “Sudah pukul saja!” suara tersebut terdengar di telinga kami dari seorang karyawan harian sambil mengepal-ngepalkan tangan. Suasana sudah benar-benar tidak memungkinkan tim kami berlama-lama di kantor itu, dan itu mungkin tujuan mereka.
Pada hari itu teman-teman memutuskan untuk tidak meneruskan pemeriksaan, samasekali tidak meladeni ancaman fisik yang mereka lontarkan secara langsung dan melaporkan kejadian ini kepada saya. Saya dengarkan cerita mereka dan mulai mengidentifikasi orang-orang yang melakukan provokasi dan melontarkan gertakan dan ancaman. Setelah semua informasi kami dapatkan, terungkap bahwa orang-orang yang melakukan provokasi salah satunya adalah karyawan yang pernah kami temukan melakukan “fraud” menerima pembayaran dari pelanggan namun tidak disetorkan ke rekening perusahaan.
Sayangnya, sampai saat itu belum ada tindakan manajemen, sebagai tindak lanjut dari hasil laporan kami, terhadapnya. Ini membuat dia merasa manajemen takut kepadanya karena kebetulan dia adalah salah satu ketua serikat pekerja. Dan ini pula yang menyebabkan timbul keberanian dia untuk melakukan gertakan ancaman terhadap auditor. Manajemen saja tidak melakukan tindakan terhadap saya apalagi cuma auditor, mungkin itu yang ada dibenaknya.
Kasus pengancaman tersebut pada akhirnya sampai ke pengadilan karena kami melaporkan tindakan tersebut kepada manajemen. Dan manajemen meresponnya dengan melaporkan ke pihak kepolisian.
Contoh kejadian itu memberikan pelajaran bahwa, sebagai auditor:
· Kita harus tetap sabar, tenang menghadapi segala kondisi yang buruk dalam pelaksanaan pemeriksaan. Kita tidak boleh terpancing dengan profokasi fisik. Semua ancaman kita selesaikan sesuai dengan peraturan perusahaan.
· Tindak lanjut dari manajemen terhadap laporan hasil pemeriksaan sangatlah penting, jika tidak, akan membuat karyawan yang terlibat merasa imun/kebal dari hukum dan akan memberikan peluang kepadanya untuk berbuat hal yang sama. Lemahnya tindak lanjut dari manajemen berpengaruh juga terhadap keberadaan auditor. Oleh karena itu, auditor harus secara berkala melakukan monitoring terhadap tindak lanjut hasil pemeriksaan. Pastikan bahwa mereka menindaklanjuti sesuai dengan waktu yang telah disepakati dalam laporan audit.
kadang emosi juga auditor menghadapi jenis auditee seperti ini, apalagi yang lebih parah setelah ketahuan ada ketidak beresan dalam pengelola ( cabang tertentu) pimpinan yang belum lama atas oknum 2 tersebut mengundurkan diri, dengan alasan pensiun.
BalasHapuspensiun atau istirahat sejenak,
tidak ada yang tahu.
:)
hehehe
yg penting niat tulus dan flexible