Senin, 22 Agustus 2011

Tantangan Menjadi Orang Yang Taat Prosedur

Pada hari Minggu tanggal 30 September 2007 saya mengunjungi rumah teman yang kebetulan saat ini telah menjadi salah satu petinggi di salah satu badan pemerintah. Sebelum di badan pemerintah tersebut dia bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan konsultan. Kami dulu, saat kuliah, aktif di salah satu club yang salah satu kegiatannya adalah memberikan motivasi kepada mahasiswa agar sukses dalam bekerja dengan cara mengundang orang-orang berhasil ke kampus untuk sekedar berbagai pengalamannya.

Pada pertemuan hari itu wajahnya kelihatan tidak seceria seperti biasanya, „aku depresi nih“. Kaget saya mendengar pernyataannya, sementara saya tahu dia adalah salah teman saya yang tegar, punya kepercayaan diri yang besar, tapi hari itu dia tidak seperti yang saya kenal.

Depresi bagaimana? Akhirnya dia bercerita bahwa akhir-akhir ini banyak telepon dan sms masuk ke handphonenya, isinya tidak lebih hanya “fitnah” tentang dirinya. Nomer teleponnya sudah disebar oleh oknum ke berbagai pihak. Dia merasa capek, lelah menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan tidak hanya oleh wartawan tetapi juga para anggota DPR di senayan.
Saya bertanya kepadanya, kenapa mereka melakukan „fitnah“ kepadamu? Jawabannya sangat melegakan saya. “Karena kami selalu bicara “NO” terhadap permintaan dari para pejabat dan petinggi lainnya untuk bisa masuk tender tanpa melalui prosedur yang telah ditetapkan”. Justeru dia mengikuti prosedur yang berlaku tetapi malah menerima tentangan dari pihak-pihak yang sudah terbiasa dengan jalan pintas memenangkan tender.
Sungguh saya bangga punya teman seperti dia. Pertemuan kami tidak lama karena saya melihat dia benar-benar capek batin.

Beberapa hari kemudian saya sms dia “Selamat berjuang melawan kebobrokan di negeri ini, pantang mundur. Sorry aku hanya bisa kasih semangat untuk teman seperti kamu, Allah SWT bersama kita”.
Dalam posisi seperti itu, saya perlu mendukung dia, bukan dukungan materi tetapi hanya sekedar semangat dan pengakuan bahwa dia berada dalam garis kebenaran.

Sebelum bekerja di badan pemerintah tersebut, dia berprofesi sebagai auditor seperti saya. Jiwa auditornya masih melekat di badannya walaupun sekarang tidak bekerja sebagai auditor. Dia tetap menjadi orang yang comply terhadap peraturan walaupun saat ini bukan sebagai auditor.

Menjadi orang yang “comply” di negara ini malah dianggap sebagai orang yang aneh bagi orang-orang yang senang dengan ketidak-comply-an. Kita dianggap berseberangan dengan patron yang sudah ada.

Menjadi auditor juga mempunyai risiko seperti itu. Dalam lingkungan atau perusahaan yang tingkat penyelewengannya tinggi dan pelakunya massal, maka kita bisa dianggap sebagai pengganggu. Karenanya kita berisiko mendapatkan tentangan dari mereka. Risiko mendapatkan tentangan, bukan tantangan, merupakan risiko yang melekat pada seorang auditor (inherent risk ) karena pada dasarnya tidak ada orang yang suka dirinya diaudit oleh orang lain. Sebagai auditor, tentangan tersebut harus kita ubah menjadi sebuah tantangan. Tantangan yang harus kita hadapi dengan arif, kepala dingin, penuh dengan kesabaran.

Bila kita menjadi kaum minoritas dalam hal berprinsip, maka janganlah mundur selangkahpun menghadapi mereka, karena masih ada kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan mereka yaitu Allah SWT. Menegakkan kebenaran sekecil apapun adalah jihad bagi seorang auditor.
 
Jakarta, 12 November 2007

1 komentar:

  1. Salam Pak Indrawan,
    Perkenalkan saya yang saat ini masih sebagai internal auditor.
    Apabila masih aktif di blog ini (mendapatkan notifikasi) dan sekiranya berkenan, bolehkah saya berguru pengalaman dengan Bapak? atau adakah media lainnya dimana bapak berbagi pengalaman tentang dunia audit

    Terimakasih

    BalasHapus